DHARMASRAYA | Arus informasi di era digital kini mengalir begitu deras tanpa batas. Dalam hitungan detik, sebuah kabar dapat menjangkau ribuan bahkan jutaan orang melalui berbagai platform media sosial yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat modern.
Fenomena ini membawa dua sisi yang tidak dapat dipisahkan. Di satu sisi, media sosial memberikan kemudahan dalam berbagi informasi dan mempererat komunikasi. Namun di sisi lain, jika tidak digunakan secara bijak, ia dapat menjadi sumber perpecahan yang berbahaya.
Hal inilah yang menjadi perhatian serius Imam Masjid Darul Hikmah Koto Baru, Kabupaten Dharmasraya, Ustadz Sorip Hasayangan Harahap. Ia mengajak seluruh masyarakat untuk lebih berhati-hati dan bijak dalam menggunakan media sosial di tengah derasnya arus informasi.
Menurutnya, platform seperti Facebook, Instagram, WhatsApp, hingga TikTok telah menjadi ruang publik yang sangat luas. Siapa saja dapat menyampaikan pendapat, menyebarkan informasi, bahkan mempengaruhi opini banyak orang dalam waktu singkat.
Namun, kemudahan tersebut sering kali disalahgunakan. Penyebaran berita bohong atau hoaks menjadi salah satu ancaman terbesar yang muncul dari penggunaan media sosial yang tidak bertanggung jawab.
Ustadz Sorip menegaskan bahwa hoaks bukan hanya sekadar informasi palsu, tetapi juga dapat memicu konflik sosial, menimbulkan kebencian antar kelompok, serta merusak keharmonisan di tengah masyarakat.
“Karena sesungguhnya setiap tindakan kita, perbuatan kita, tindakan jari jemari kita tentunya butuh pertanggungjawaban. Jangan sampai jari yang diberikan Allah SWT harusnya digunakan untuk kebaikan, malah menyebar berita-berita bohong yang bisa menimbulkan kekisruhan maupun perpecahan,” ungkapnya, Selasa (31/3).
Ia mengingatkan bahwa setiap informasi yang diterima seharusnya tidak langsung disebarkan begitu saja. Masyarakat perlu menyaring terlebih dahulu, memastikan kebenarannya, serta memahami dampak yang mungkin ditimbulkan sebelum membagikannya kepada orang lain.
Dalam pandangannya, ajaran Islam sangat jelas mengarahkan umatnya untuk menyebarkan kebaikan. Media sosial seharusnya dimanfaatkan sebagai sarana untuk berbagi hal-hal positif, seperti ilmu pengetahuan, pesan moral, dan nilai-nilai kebersamaan.
Lebih jauh, Ustadz Sorip juga menyoroti pentingnya menjaga etika dalam berkomunikasi di dunia maya. Ia mengingatkan agar masyarakat menghindari ujaran kebencian, fitnah, serta komentar negatif yang dapat melukai perasaan orang lain.
“Kita harus berhati-hati dalam berbicara dan menulis di media sosial. Hindari menyebarkan ujaran kebencian, fitnah, atau komentar negatif. Sebaliknya, marilah kita saling menghormati, mendukung, dan memperbaiki satu sama lain dalam semangat persaudaraan,” ujarnya.
Menurutnya, media sosial adalah ruang terbuka yang dapat diakses oleh siapa saja. Oleh karena itu, menjaga adab dan sopan santun menjadi hal yang tidak boleh diabaikan, termasuk dalam memilih kata dan cara menyampaikan pendapat.
Ia pun menegaskan bahwa dalam Islam, berbicara dengan santun dan penuh kasih sayang adalah bagian dari akhlak yang harus dijaga, termasuk saat berinteraksi di dunia digital.
Di akhir pesannya, Ustadz Sorip Hasayangan Harahap mengajak seluruh masyarakat untuk menjadikan media sosial sebagai sarana pemersatu, bukan alat pemecah belah. Ia berharap ruang digital dapat dipenuhi dengan konten-konten positif yang mempererat persaudaraan dan memperkuat persatuan bangsa.
Catatan Redaksi: Bijak bermedia sosial bukan hanya tanggung jawab individu, tetapi juga menjadi kunci menjaga keutuhan sosial di tengah derasnya arus informasi digital yang tak terbendung. Kesadaran kolektif masyarakat sangat dibutuhkan untuk menciptakan ruang digital yang sehat, aman, dan penuh nilai kebaikan.
TIM RMO






