BERBAJU KOKO DAN TOPI HAJI TAK USAH TAKUT KEMANA-MANA

SHOOTLINES.COM| JAKARTA — Masyarakat yang terbiasa mengenakan gamis, baju koko dan peci putih tidak perlu merasa takut melakukan aktivitas sehari-hari atau bepergian kemana-mana. Polisi konsisten menjalankan fungsi dan tugasnya sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

Hal itu ditegaskan Suryadi, pengamat kepolisian dari PUSKOMPOL, Senin (21/12/20) di Jakarta.

Ia merasa perlu menegaskan hal itu terkait video yang viral menggambarkan “Kota Jakarta Mengejar Mereka yang Mengenakan Baju Koko Putih dan Berpeci Haji.”

“Dusta besar itu, fitnah, dan cuma mencari dukungan untuk membangkitkan kebencian masyarakat kepada Polri,” kata Ketua Dewan Pembina Pusat Studi Komunikasi Kepolisian (PUSKOMPOL) Jakarta itu.

Suryadi mengaku sebagai penggemar baju koko dengan berbagai warna. Dari setiap sepekan aktivitasnya di luar, pasti ada hari-hari ia mengenakan baju koko.

“Hari ini saya sengaja berjalan kaki di sepanjang jalan-jalan protokol di Jakarta. Polisi tampak hadir di mana-mana menjalankan tugas sesuai fungsi masing-masing di ruang publik. Saya aman-aman saja, tuh,” urainya.

Dia mengaku secara proporsional mengenal banyak petinggi Polri, tapi lebih banyak anggota Polri di lapangan yang tidak mengenalnya. “Jadi, jika benar ada operasi semacam itu, mustinya saya terjaring, dong,” kata Suryadi yang memakai kemeja koko biru saat berjalan kaki si Jln. M.T. Haryono, Jakarta.

Sepanjang amatannya dalam dua pekan terakhir sekurangnya sudah tiga video yang menegasikan Polri sekaligus berusaha membangkitkan dan membakar kebencian masyarakat terhadap representasi negara di bidang penegakkan hukum, pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat itu.

“Itu dalam pantauan saya terhadap ‘sharing’ video di grup-grup WA. Dua di antaranya mengindikasikan sudah ditangkap, satu lagi belum saya ketahui,” kata Suryadi, M.Si.

Kedua pelakunya patut diduga menghujat dan mengancam Polri. Dari video yang beredar juga mengindikasikan telah ditangkap aparat keamanan.

Satu lagi yang lainnya, katanya lebih lanjut, menampilkan seorang laki-laki berbaju koko putih, dan peci haji sambil menyetir mobil melintas di salah satu jalan utama di Jakarta Pusat. Terekam pula ia tengah melintas di depan sejumlah polisi yang sedang menjalankan tugas.

Kalimat yang dia lontar, kata Suryadi, betul-betul ingin membangkitkan ketakutan yang mencekam dari para penikmat video yang diviralkan.

Intinya ia meminta berhati-hati kepada mereka yang mengenakan baju koko putih dan peci haji karena “Jakarta sedang menyasar mereka”.

Dia mengingatkan, adalah hak setiap orang untuk menggenakan pakaian model apa pun, dengan tetap memerhatikan etika, kesopanan, dan budaya daerah setempat.

“Mau pakai baju dan topi macam apa pun, silakan, tapi di masa pandemi Covid19 saat ini, kalau berkerumun tanpa jarak, pasti polisi akan memperingatkan bahkan sampai kepada mengambil langkah-langkah mengamankan bila dinilai merugikan orang lain di ruang publik,” kata Suryadi.

Terhadap orang yang memroduksi dan memviralkan video tersebut, Suryadi mengimbau Polri untuk cepat bertindak dan mengumumkannya. Hal ini penting agar publik tahu Polri siap bersama masyarakat.

Tindakan memroduksi dan memviralkan penggambaran semacam itu, bukan saja merupakan fitnah keji tapi memrovokasi munculnya kebencian dari masyarakat pada aparat keamanan khususnya Polri.

“Anda bisa bayangkan apa jadinya Negara tanpa polisi. Lebih ekstrem lagi, negara tanpa pemerintahan. Membangun imej semacam itu sama dengan menihilkan representasi Negara,” urainya.

Maka, lanjutnya, makin cepat Polri bertindak akan lebih bagus demi terciptanya kondisi yang kondusif yaitu masyarakat dan Polri dapat bekerja sama saling mendukung demi tumbuhnya rasa saling percaya.

Laporan : Khnza

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *