Dandim Takalar Sebagai Irup Dalam Upacara Peringatan Hari Korban 40.000 Jiwa Tingkat Kabupaten Takalar

SHOOTLINES.COM | TAKALAR SULSEL — Letkol Czi Catur Witanto, S.I.P., M.Si., M.Tr (Han) (Dandim 1426/Takalar) bertindak selaku Inspektur Upacara pada peringatan Hari Korban 40.000 jiwa Sulawesi Selatan tingkat Kabupaten Takalar Di Lapangan Pemda Jalan Jenderal Sudirman Kelurahan Kalabbirang Kecamatan Pattallassang Kabupaten Takalar, Jum’at, 11/12/2020.

Kegiatan Upacara dihadiri oleh Drs. H. Muh Arsyad, MM (Sekda Takalar), Kompol Abdul Malik, SH wakili (Kapolres Takalar), Arwana, SH., MH (Ketua Pengadilan Negeri Takalar), Andiyani Saleh Pegasongan, S.Ag (Ketua Pengadilan Agama Takalar), Kapten Inf Setiyadi Purnomo (Wadan yonif 726/Tml), Syamsuddin Wakili (Kalapas IIB), Para Perwira Jajaran Kodim 1426/Tkl), Syafaruddin, S.Sos (Kabid Tramtib Satpol PP Tkl), Syamsuddin Kr Kio (Ketua Legiun Veteran Tkl) dan Para Keluarga pejuang Veteran Kabupaten Takalar.

Adapun sambutan Bupati Takalar yang dibacakan oleh Dandim 1426/Takalar yaitu “Dengan upacara kali ini kita kembali mengingat para Syuhada Korban 40.000 Jiwa Sul-Sel kita melaksanakan upacara untuk merenung dan menakar akan besarnya pengorbanan mereka, maka marilah kita semua nenyampaikan syukur Kehadirat Allah, SWT yang telah memberi waktu luang kepada kita untuk menunjukkan bakti kesetiaan kita kepada Para Syuhada.

“Upacara Peringatan ini adalah wujud ekspresi akan kecintaan kita terhadap para pejuang, para Syuhada yang tercatat sebagai Korban kekejaman kaum penjajah yang dikenal dengan sebutan Hari korban 40.000 Jiwa Penduduk Sulawesi Selatan.

“Ini adalah sejarah pahit bagi perjalanan bangsa kita sebagai kebiadaban dan kebengisan Westerling dengan mencabik cabik nilai kemanusiaan hingga menghilangkan sedikitnya 40.000 Jiwa rakyat tak berdosa. Ini adalah merupakan tragedi kemanusiaan ter-Akbar sepanjang sejarah Negeri ini.

“Oleh sebab itu saya mengajak kita semua, mari kita renungkan peristiwa sejarah yang terjadi 74 Tahun silam sekarang giliran bagi kita sebagai pelanjut, yang menjadi buah tanda tanya besar, apakah pengorbanan para syuhada ini hanya akan ada dan tertulis dibuku sejarah saja dan apakah kita tidak akan mencoba merefresinya kembali sebagai bentuk koreksi sebuah pengabdian dalam menterjemahkan makna hidup apakah kita tidak ingin menjadi pahlawan yang akan tetap hidup di hati bangsa ini ranah perjuangan ini masih cukup luas, dan peran masih bisa kita mainkan disetiap individu masing masing tidak ada lagi baku hantam, dentungan peluru, pertumpahan darah. Sekarang saatnya kita melanjutkan perjuangan dengan semangat membangun Kabupaten Takalar yang lebih baik.

“Sejarah kepiluan, sejarah ini berlalu hanya sebatas peringatan secara ceremonial saja. Hanya sekedar menjadi catatan kesedihan, tapi kita ingin kepedihan itu mempunyai hikmah dan bermakna. Kita harus bisa menyikapinya dengan meenjadikannya sebagai moment penanaman nilai nilai pahlawan bagi kita semua dalam melanjutkan dan mengisi ruang pembangunan yang sementara kita galakkan.

-silele-

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *