Erick Hamdani Dt. Ambasa Hadirkan Pesan Lebaran yang Hangat, Jauh dari Kemewahan

SUMBAR | Momentum Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah menjadi ruang refleksi yang mendalam bagi banyak orang, tak terkecuali Erick Hamdani Dt. Ambasa, legislator asal Padang Panjang di Sumatera Barat.

 

Dalam suasana yang sarat nilai spiritual, Erick Hamdani Dt. Ambasa memilih menyampaikan pesan yang sederhana, tanpa kemasan berlebihan, namun terasa kuat dan menyentuh hati masyarakat.

Ucapan “Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H / 2026 M, Minal Aidin Wal Faidzin, Mohon Maaf Lahir dan Bathin” yang disampaikannya menjadi penegas bahwa makna Lebaran tidak selalu harus ditampilkan dengan kemewahan, tetapi cukup dengan ketulusan.

Sebagai seorang ninik mamak yang menyandang gelar adat Datuk Ambasa, ia tidak hanya hadir sebagai figur publik, tetapi juga bagian dari tatanan adat Minangkabau yang menjunjung tinggi nilai kebersamaan dan saling menghormati.

Kesederhanaan pesan tersebut justru memperlihatkan sisi lain seorang wakil rakyat yang mencoba tetap membumi di tengah dinamika kehidupan masyarakat yang beragam.

Lebaran, dalam pandangannya, bukan sekadar perayaan tahunan, tetapi momentum untuk membersihkan diri, memperbaiki hubungan, dan menata kembali nilai-nilai kehidupan yang mungkin sempat terabaikan.

Di tengah kehidupan yang semakin cepat dan kompleks, nilai saling memaafkan sering kali hanya menjadi formalitas. Padahal, di situlah inti dari Idul Fitri yang sebenarnya.

Pada momen ini, ia tidak berbicara soal program atau politik. Ia justru memilih menyampaikan pesan kemanusiaan yang sederhana, yang dapat dirasakan oleh siapa saja.

Pesan yang disampaikan menjadi pengingat bahwa jabatan bukanlah batas untuk tetap dekat dengan masyarakat. Justru dengan kerendahan hati, hubungan itu bisa terjaga lebih kuat.

Lebaran juga menjadi momen untuk kembali menyadari bahwa setiap manusia memiliki kekurangan, dan saling memaafkan adalah cara untuk menjaga harmoni dalam kehidupan sosial.

Apa yang disampaikan mungkin singkat, namun memiliki makna yang dalam. Bahwa dalam kesederhanaan, tersimpan ketulusan yang justru lebih mudah diterima oleh hati.

Pada akhirnya, Idul Fitri bukan tentang seberapa meriah perayaannya, tetapi seberapa besar perubahan yang mampu dibawa dalam diri setiap individu.

TIM RMO

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *