Kepemimpinan Listyo Sigit Prabowo Bakal Warnai Perubahan Dan Transparansi

SHOOTLINES.COM | DKI JAKARTA Kepemimpinan Polri mendatang setelah Listyo Sigit Prabowo menjadi Kapolri merupakan loncatan yang signifikan. Sebab Komjen Listyo Sigit lulusan Akpol 1991 (Bhara Daksa) bakal mewakili generasi Polri era sembilan puluhan. Sigit juga menjadi pionir angkatan pra millenial dan inspirator generasi muda Polri era millenial.

Generasi Polri era 80-an telah berakhir setelah Jenderal ldham Azis mengakhiri masa jabatannya bulan Januari 2021. Satu dasa warsa lalu Polri dipimpin Jenderal Timur Pradopo, Akpol 1978 (2010-2013), Jenderal Sutarman Akpol 1981 (2013-2015), Jenderal Badrodin Haiti, Akpol 1982 (2015-2016), Jenderal Tito Karnavian, Akpol 1987 (2016-2019) dan terakhir Jenderal ldham Azis, Akpol 1988 A (2019-2021).

Loncatan signifikan kepemimpinan Polri memang bukan kali ini saja. Saat Presiden Jokowi menunjuk Komjen Tito Karnavian, menjadi Kapolri, tahun 2016 silam, Tito masih terlalu junior. Tito pemegang Adhi Makayasa Akpol 1987, harus melewati senior empat angkatan, 1983, 1984, 1985 dan 1986. Sedangkan, Listyo Sigit hanya melewati senior tiga angkatan, 1988 A, 1989 dan 1990.

Kepemimpinan Listyo Sigit dari sisi kejujuran, moralitas dan profesional sudah tidak diragukan lagi. Saya yakin saat menjabat Kapolresta Solo, ia sudah banyak belajar tentang kejujuran dan moralitas kepada Walikota Solo (Jokowi) yang menjadi partner kerjanya. Apalagi saat menjadi ajudan RI 1 selama 2,5 tahun. Simbiosis Mutualisme telah tercipta di antara mereka sehingga terjadi chemistry yang dalam.

Sebab itu, penunjukan Listyo Sigit sebagai Kapolri sesuatu yang wajar. Presiden Jokowi pasti sudah memperhitungkan segalanya. Terbukti, setelah nama Listyo yang dikirim Presiden Jokowi ke DPR tidak ada reaksi yang menolak di kalangan fraksi fraksi di parlemen. Bahkan, publik pun banyak yang mendukung.

Prestasi yang dicapai Sigit, sejak menjabat Kapolda Banten sudah tak diragukan. Apalagi saat berhasil menangkap buronan kelas wahid bak tokoh mafia Joko S Tjandra di Malaysia. Tak ada kompromi, dua jenderal polisi juga diseret ke pengadilan.

“Keberhasilan menangkap Joko S Tjandra untuk menjaga marwah dan kehormatan institusi kepolisian, ” ujar Sigit saat itu.

Seperti sudah disebutkan di atas era kepemimpinan Listyo Sigit, akan membawa angin segar di internal Polri. Dalam setiap proses pergantian Kapolri, memang terjadi rivalitas, tapi ketika salah satu kandidat sudah ditunjuk Presiden rivalitas itu segera cair. Internal Polri harus solid. Proses pergantian Kapolri sesuatu yang alami tentunya.

Batalyon Bhara Daksa (Akpol 1991) memang beberapa tahun sebelumnya sudah diprediksi bakal mengisi kepemimpinan Polri, karena selain Listyo Sigit Prabowo, ada sejumlah rekannya yang berprestasi di berbagai penugasan. Sebutlah, Irjen Pol Fadil lmran, Kapolda Metro Jaya, Irjen Mohammad Iqbal, Kapolda NTB, Irjen Pol Merdisyam, Kapolda Sulsel dan Irjen Pol Wahyu Widada, Kapolda Aceh.

Irjen Pol Fadil Imran, perwira berlatar belakang reserse sudah sangat dikenal publik karena berbagai prestasi yang ditorehkannya. Fadil yang kini memimpin Polda Metro Jaya pernah menjabat Kapolda Jatim dan Direktur Tippidter dan Dittipidsiber Bareskrim Polri. Kini Fadil, tengah mencanangkan program “Kampung Tangguh Jaya” untuk membantu Pemda DKI menekan penularan Covid-19 di ibukota.

Irjen Pol Mohammad Iqbal, pati yang sebelumnya menguasai bidang lalulintas, tapi kemudian menggeluti bidang humas dan berhasil menjadi juru bicara Polri yang andal. Ia menjadi salah satu tokoh sentral di lulusan Akpol 1991. Sebab itu, sudah selama 7 tahun ini lqbal menjadi Ketua Angkatan saat masih menjabat Kapolres Jakarta Utara.

“Kita sebenarnya adalah saudara yang dipertemukan oleh takdir. Sudah mulai tiba masa di mana banyak dari kita mendapat amanah dan menuai prestasi, posisi dan jabatan sesuai dengan apa yang telah kita berikan untuk negara, ” kata lqbal saat merayakan ultah Bhara Daksa ke 19 tahun 2020 silam.

Irjen Pol Merdisyam, Kapolda Sulsel, berlatar belakang intelijen juga sarat prestasi. Selain itu, ada Brigjen Pol Khrisna Murti, Karo Misiter Divisi Hubter Polri, yang berhasil mengungkap kasus kopi beracun Mirna Salihin. Tokoh-tokoh elit Polri angkatan 1991 ini sudah teruji dan berprestasi di lingkup Polri. Mereka bersama Kapolri Listyo Sigit akan menjadi motor penggerak reformasi birokrasi dan kultural yang sudah sejak lama dicanangkan para pendahulu.

Tapi, seperti pengalaman saat Jenderal Tito Karnavian, menjadi Kapolri, ia tidak meninggalkan senior seniornya. Tito bahkan menempatkan sejumlah lulusan Akpol 1984 dan 1985 menjadi Kapolda di beberapa tempat strategis. Sehingga tidak terjadi kecemburuan di internal.

Listyo Sigit, pasti akan melakukan apa yang menjadi pengalaman para seniornya bahkan sesepuh di Polri. Dengan kerendahan hati, ia mendatangi sejumlah mantan Kapolri hari Minggu. Kemudian, Senin pagi, Listyo datang ke rumah Mendagri Tito Karnavian. Kepada para seniornya, Listyo Sigit meminta restu agar dapat melaksanakan tugas dengan baik. Diperkirakan, Listyo akan merangkul lulusan, Akpol 1988 B, 1989 dan 1990.

Sebelum, melakukan Fit and Propper Test di DPR, hari ini (Rabu), kemarin Listyo Sigit mengirim utusan tiga jenderal bintang dua menyerahkan makalah yang berisi program-program prioritas saat dia memimpin Polri.

Tim yang menyerahkan makalah tersebut dipimpin Irjen Pol Wahyu Widada, Kapolda Aceh, Irjen Pol Nico Afinta (Akpol 1992), Kapolda Jatim dan lrjen Pol Ferdy Sambo (Akpol 1994) Kadiv Propam Polri. Makalah yang diserahkan berjudul “Transformasi Menuju Polri yang Presisi ( Prediktif-Responsibiltas-Transparansi). ”

Irjen Pol Wahyu Widada, yang menjadi salah satu penyusun makalah adalah lulusan terbaik (Adhi Makayasa) Akpol 1991. Wahyu pernah menjabat Wakapolda Riau dan Kapolda Gorontalo. Seperti diketahui, saat ini jumlah lulusan Akpol 1991 sudah sekitar 40 anggota yang berpangkat bintang.

 

LAPORAN : KHNZA | KORLIP JABODETABEK

EDITOR     : KENZHIE PUTRAMA KENNEDIE

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *